Pro dan Kontra Soal Fatwa MUI Menyikapi Covid19

402 Views

Banyuwangi, RepublikNews – Majelis Ulama Indonesia ( MUI) beberapa waktu lalu sudah mengeluarkan fatwa dalam rangka menyikapi pandemi virus corona / covid-19 yang kini telah menjangkit di indonesia .

Dalam fatwanya MUI menyampaikan beberapa poin seperti himbauan untuk tidak melaksanakan sholat berjamaah dimasjid, menunaikan sholat jum’at , pengajian umum, majelis taklim atau aktivitas – aktivitas lain yang melibatkan berkumpulnya umat dalam jumlah besar.

Namun , fatwa terkait larangan menunaikan sholat berjamaah dimasjid seperti halnya sholat jum’at yang dirilis oleh MUI, sepertinya di sikapi beragam oleh kalangan masyarakat, mereka ada yang pro dan ada juga yang kontra.

Himbauan pemerintah melalui PBNU dan MUI pun tidak banyak diserap dan dipahami bahkan berbagai ungkapan dari beberapa ulama menjadi pergunjingan hangat dikalangan masyarakat bawah.

Menurut salah satu ulama pengasuh pondok pesantren DARULLATIF ARROSID Banyuwangi, KH. Ahmad Rosidi saat di temui awak media RepublikNews di kediamannya jum’at (17/4/2020) mengatakan, memang benar semua musibah itu datangnya dari Tuhan/ Allah, makanya, Allah memberikan penyakit atau musibah demikian, ya tujuannya untuk menguji keimanan kita, supaya kita tidak takabur, tidak sombong, karena apa – apa ilmu yang diberikan Allah kepada manusia masih sangat – sangat terbatas,” tuturnya.

Makanya saya kurang setuju jika ada seseorang mengatakan jika waktunya mati ya mati, jika belum waktunya mati walau terkena virus corona ya tidak mati, menurut saya itu perkataan yang keliru, benar, kita wajib bersandar kepada Tuhan/ Allah, maka tidak benar ketika semua yang terjadi disandarkan kepada Tuhan/ Allah tanpa adanya usaha / ikhtiar dari manusia itu sendiri.

Menurut saya, adanya virus corona ini adalah dalam rangka menguji, menguji keimanan manusia, menguji keilmuan manusia, menguji keikhlasan manusia. Penyakit itu pasti akan datang, mulai dari zaman nabi Adam itu sudah ada penyakit hingga sampai pada nabi – nabi berikutnya Pemerintah juga begitu, masanya pak Sukarno apa, masanya pak Suharto apa, masanya Gus Dur apa, masanya bu Mega apa, masanya pak SBY apa, itu pasti ada, tapi tujuannya apa, adalah memberikan supaya kita mengerti dan yakin kalau Tuhan /Allah itu masih ada, kalau Tuhan/ Allah memberikan ilmu kepada kita secara spontanitas kita takut gak mampu, dan juga kalau Tuhan / Allah memberikan sepuluh penyakit langsung apa bisa sembuh secara tuntas , makanya Tuhan / Allah menguji kita dengan cara step by step ( Tahap Demi Tahap) tandasnya.

Lebih lanjut, terkait surat keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan, bahwa umat islam meliburkan sementara untuk kegiatan yasinan, tahlilan, diba’an, pengajian umum dan lain – lainnya hingga ada pemberitahuan lebih lanjut dari pemerintah, itu menurut kami sudah betul, karena keputusan itu sudah di putuskan melalui bahsul masa’ il,” tegasnya.

Dengan adanya wabah corona/ covid-19 ini marilah kita ambil hikmahnya, itu menguji umat manusia, 1. Allah itu menguji kekuatan iman kita, bahwa Tuhan/ Allah itu masih ada, 2. Ilmu yang diberikan manusia itu masih sangat – sangat terbatas, dan yang ke 3. Yaitu supaya manusia ini bisa bergerak bisa bersatu saling mendukung, ibaratkan tangan itu jari sepuluh, maka dari itu marilah ulama dengan umaro bekerja sama untuk memberikan pemahaman untuk menanamkan kebersihan, dalam arti, bersih jiwa, bersih raga, dan juga bersih tempat,” pungkasnya. (Adi/ ilham)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.